
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Baru juga duduk di kursi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa langsung tancap gas. Salah satu jurus awalnya: menggelontorkan dana negara Rp200 triliun ke bank-bank BUMN. Tujuannya terdengar ambisius—menghidupkan ekonomi yang lagi lesu. Tapi pertanyaannya, ini beneran bikin ekonomi jalan, atau sekadar pindah tempat parkir duit?
Dana jumbo itu berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang sebelumnya “ngendap” di Bank Indonesia. Menurut Purbaya, uang yang kelamaan diam justru bikin sistem keuangan kering.
“Kalau ditaruh di BI, perbankan enggak bisa akses. Kita pindahkan ke bank supaya ekonomi bisa jalan terus,” kata Purbaya, September lalu.
Lewat KMK Nomor 276 Tahun 2025, pemerintah resmi menitipkan duit itu ke lima bank pelat merah: BRI, BNI, Mandiri, BTN, dan BSI. Bentuknya deposito, dan ada satu aturan tegas: dana ini enggak boleh dipakai buat beli SBN.
Bank Mandiri & BRI Paling Gesit
Hingga Oktober 2025, sekitar 85 persen dana sudah terserap. Bank Mandiri dan BRI jadi yang paling agresif—masing-masing menyerap penuh Rp55 triliun. BNI, BTN, dan BSI menyusul, meski dengan kecepatan berbeda.
Belum puas, November 2025 Purbaya kembali nambah amunisi Rp76 triliun. Tiga bank besar kembali kebagian jatah, plus Bank DKI yang ikut kecipratan Rp1 triliun.
Purbaya optimistis, langkah ini bakal memperlancar peredaran uang, membuka kredit, dan ujung-ujungnya bikin rakyat lebih gampang cari kerja.
“Sistem finansial kita agak kering. Itu yang bikin ekonomi melambat,” tegasnya.
Ekonomi Jalan atau Ilusi Likuiditas?
Namun, tidak semua ekonom langsung tepuk tangan. Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengingatkan bahwa memindahkan uang belum tentu sama dengan menggerakkan ekonomi.
“Kebijakan ini baru bisa disebut berhasil kalau benar-benar mendorong kredit produktif dan belanja sektor riil, bukan cuma mindahin posisi kas,” ujarnya.
Menurut Syafruddin, ada beberapa “rapor” yang harus dilihat:
• Apakah kredit produktif naik dan bunga kredit turun?
• Apakah konsumsi dan penjualan ritel menguat?
• Apakah sektor riil hidup, terlihat dari PMI manufaktur dan investasi?
• Dan yang tak kalah penting, inflasi dan rupiah tetap stabil.
Masalahnya, sampai sekarang rupiah masih berkutat di level Rp16.700–16.800 per dolar AS, sementara yield SUN 10 tahun bertahan di atas 6,3 persen. Tanpa perbaikan nyata di sektor riil, suntikan likuiditas ini dikhawatirkan cuma jadi “sensasi sesaat”.
“Injeksi likuiditas yang enggak mengubah perilaku bank dalam menyalurkan kredit sering berakhir cuma jadi tumpukan aset,” kata Syafruddin.
Jadi, Siapa yang Gerak?
Purbaya sudah membuka keran. Duit sudah berpindah. Sekarang bola ada di tangan perbankan dan sektor riil. Kalau kredit benar-benar mengalir ke UMKM, industri, dan lapangan kerja, ekonomi bisa ikut ngegas.
Kalau tidak? Ya, Rp200 triliun itu cuma pindah kas—ramai di neraca, sepi di dompet rakyat.
Sumber : CNN Indonesia