
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah makin terasa dampaknya ke sektor energi global. Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel membuat sejumlah negara produsen minyak dan gas kompak mengerem produksi.
Langkah darurat ini ditempuh demi menghindari risiko serangan terhadap fasilitas energi strategis.
Mengutip laporan Reuters, beberapa instalasi migas di kawasan Teluk menghentikan operasi sementara sebagai tindakan pencegahan setelah gelombang serangan drone dan rudal memasuki hari ketiga.
Qatar setop LNG, Saudi tutup kilang raksasa
Qatar dilaporkan menghentikan produksi gas alam cair (LNG). Fasilitas milik QatarEnergy bahkan disebut menjadi target dua drone, meski tingkat kerusakan masih dievaluasi.
Sementara itu, Arab Saudi mengambil langkah lebih drastis. Perusahaan migas nasional Saudi Aramco menutup kilang Ras Tanura, salah satu yang terbesar dengan kapasitas 550 ribu barel per hari. Kilang ini juga berfungsi sebagai terminal ekspor penting minyak mentah Saudi.
Penutupan ini langsung memicu kekhawatiran pasar.
Israel ikut terdampak
Di lepas pantai Israel, pemerintah memerintahkan Chevron menangguhkan operasional ladang gas raksasa Leviathan. Ladang tersebut tengah dikembangkan untuk ekspor besar ke Mesir.
Beberapa fasilitas gas lain, termasuk Tamar dan instalasi milik Energean, juga dilaporkan menghentikan produksi sementara.
Irak Kurdistan lumpuh
Di wilayah Kurdistan, Irak, sejumlah perusahaan migas seperti DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy ikut menyetop produksi. Meski belum ada laporan kerusakan, perusahaan memilih bermain aman di tengah situasi yang tak menentu.
Harga minyak melonjak, Selat Hormuz terancam
Efeknya terasa cepat.
Harga minyak dunia langsung meroket 13 persen hingga menembus US$82 per barel—level tertinggi sejak awal 2025. Investor khawatir pasokan global terganggu, apalagi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen suplai minyak dunia, nyaris terhenti.
Jika jalur ini benar-benar ditutup, distribusi energi global bisa kacau.
Iran tetap jadi pemain besar
Di sisi lain, Iran sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC masih mempertahankan produksinya sekitar 3,3 juta barel per hari, ditambah 1,3 juta barel kondensat.
Namun ledakan yang terdengar di Pulau Kharg—terminal ekspor utama Iran—menambah tanda tanya soal keberlanjutan pasokan mereka.
Sumber : CNN Indonesia