Satu Prajurit Indonesia Gugur dalam Insiden di Markas UNIFIL Lebanon

 Seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia dilaporkan gugur dalam insiden ledakan di markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan, Ahad (Minggu). Foto-REUTERS

SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA - Seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia dilaporkan gugur dalam insiden ledakan di markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan, Ahad (Minggu). 

Sementara itu, satu prajurit lainnya dilaporkan dalam kondisi kritis.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, jenazah prajurit yang gugur masih berada di pos UNIFIL di wilayah Marjayoun dan belum dievakuasi. 

Adapun prajurit yang terluka kini menjalani perawatan intensif di RS St George Beirut.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Mabes TNI maupun Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terkait insiden tersebut.

Insiden terjadi di pos UNIFIL di kawasan Aadshit al-Qusayr, distrik Marjayoun, di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan. 

Laporan media lokal menyebutkan adanya serangan yang mengenai pangkalan penjaga perdamaian, disertai evakuasi korban menggunakan helikopter.

Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengonfirmasi bahwa sejumlah personel penjaga perdamaian terluka akibat ledakan proyektil di lokasi tersebut.

“Sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adshit al-Qusayr, mengakibatkan sejumlah penjaga perdamaian terluka,” ujar Ardiel.

Ia juga menyebut satu personel penjaga perdamaian tewas dalam insiden tersebut, sementara satu lainnya mengalami luka parah. Hingga kini, UNIFIL masih menyelidiki asal proyektil yang memicu ledakan.

“Kami belum mengetahui asal muasal proyektil tersebut dan sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui seluruh keadaannya,” kata Ardiel.

Dalam catatan UNIFIL, sejak akhir Februari telah terjadi sekitar 20 insiden penembakan di wilayah tersebut. 

Sebagian besar sumber serangan belum teridentifikasi, sementara sebagian lainnya dikaitkan dengan militer Israel dan aktor non-negara di Lebanon, yang kemungkinan besar Hizbullah.

UNIFIL menegaskan belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas insiden terbaru yang menimbulkan korban jiwa tersebut. 

Sebelumnya, militer Israel mengakui satu insiden pada awal Maret ketika tembakan tank secara tidak sengaja mengenai posisi UNIFIL dan melukai personel penjaga perdamaian.

Misi UNIFIL sendiri telah beroperasi sejak 1978 untuk memantau gencatan senjata di Lebanon selatan, serta diperkuat mandatnya pascakonflik 2006 antara Israel dan Hizbullah melalui resolusi Dewan Keamanan PBB.

Seiring meningkatnya eskalasi konflik sejak akhir Maret 2026, situasi kemanusiaan di Lebanon memburuk. 

Data otoritas kesehatan setempat menunjukkan lebih dari seribu orang tewas dan lebih dari satu juta warga mengungsi akibat serangan yang terus berlangsung.

Sejumlah pihak, termasuk para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa, memperingatkan potensi krisis kemanusiaan yang semakin luas jika konflik tidak segera mereda.

Sumber    : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama