Kekeringan Melanda 6.691 Hektare Lahan Pertanian di Kalsel

Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalimantan Selatan mencatat seluas 6.691 hektare lahan padi terdampak kekeringan hingga akhir Juli 2026. Sebagian tanaman bahkan dilaporkan mengalami puso atau gagal panen.

SUARAMILENIAL.ID, BANJARBARU — Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalimantan Selatan mencatat seluas 6.691 hektare lahan padi terdampak kekeringan hingga akhir Juli 2026. Sebagian tanaman bahkan dilaporkan mengalami puso atau gagal panen.

Kepala BPTPH Kalimantan Selatan Lestari Fatria Wahyuni mengatakan, berdasarkan data per 31 Juli 2026, luas tanaman padi yang mengalami puso mencapai sekitar 1,3 hektare. Sementara itu, kekeringan juga terjadi pada lahan jagung seluas 5,5 hektare, meski belum dilaporkan adanya gagal panen.

"Sesuai prediksi BMKG, puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September, bahkan berpotensi berlangsung lebih panjang karena pengaruh El Nino," kata Lestari di Banjarbaru, Senin (4/8/2026).

Wilayah dengan dampak kekeringan terluas berada di Kabupaten Tanah Laut, yakni 3.383 hektare. Selanjutnya, Kabupaten Barito Kuala seluas 1.919 hektare, Kabupaten Banjar 622 hektare, dan Kabupaten Tanah Bumbu 446 hektare.

Untuk kejadian puso, BPTPH mencatat lahan seluas satu hektare di Kabupaten Barito Kuala dan 0,3 hektare di Kota Banjarbaru mengalami gagal panen.

Menurut Lestari, luas lahan terdampak masih berpotensi bertambah apabila suhu udara tetap tinggi dan curah hujan belum meningkat dalam beberapa pekan ke depan.

Sebagai langkah mitigasi, BPTPH menginstruksikan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) melakukan pemantauan terhadap kondisi pertanaman dan ketersediaan sumber air di kawasan persawahan.

Koordinasi juga dilakukan bersama dinas pertanian kabupaten dan kota serta Balai Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber air melalui sistem pompanisasi. Di wilayah pasang surut, seperti Kabupaten Barito Kuala, pemerintah mendorong penggunaan sumur pertanian sebagai alternatif sumber air karena tingginya tingkat keasaman air permukaan.

Selain itu, pemerintah mengusulkan pelaksanaan hujan buatan untuk membantu mengurangi dampak kekeringan di sejumlah wilayah yang mengalami defisit air.

Kekeringan juga berdampak pada persemaian padi. Hingga akhir Juli, sebanyak 275 kilogram benih persemaian terdampak, dengan sekitar 125 kilogram di antaranya mengalami puso. Dampak terbesar terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu dengan persemaian terdampak 150 kilogram, sedangkan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan seluruh persemaian yang terdampak, sekitar 125 kilogram, dilaporkan mengalami puso.

Lestari juga mengimbau petani tidak membakar sisa jerami setelah panen. Menurut dia, jerami sebaiknya dimanfaatkan sebagai bahan kompos melalui pengolahan lahan tanpa bakar untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi risiko kebakaran lahan.

Sumber    : Republika.co.id

Lebih baru Lebih lama