SUARAMILENIAL.ID, BANJARMASIN — Produksi pangan di Kalimantan Selatan hingga awal Agustus 2026 mencapai sekitar 1,18 juta ton, atau hampir dua kali lipat dari kebutuhan pangan daerah yang diperkirakan 600.000 ton.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyatakan kondisi tersebut membuat stok pangan daerah relatif aman menghadapi musim kemarau.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan Syamsir Rahman mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi pangan Kalsel mencapai 1.179.000 ton. Dengan kebutuhan sekitar 600.000 ton, daerah itu masih memiliki surplus sekitar 600.000 ton.
"Angka produksi kita mencapai 1.179.000 ton atau hampir 1,2 juta ton. Sementara kebutuhan Kalimantan Selatan sekitar 600.000 ton. Artinya, kita masih surplus sekitar 600.000 ton," ujar Syamsir, Rabu (5/8/2026).
Menurut Syamsir, produksi pangan pada Agustus 2026 meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Cadangan pangan tersebut tersimpan di Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), lumbung pangan masyarakat, serta gudang pangan di sejumlah kabupaten dan kota.
Cadangan tersebut mencakup sejumlah komoditas pangan, seperti padi dan jagung. Pemerintah daerah memperkirakan pasokan masih dapat terjaga meskipun sebagian wilayah Kalsel mulai memasuki musim kemarau.
Salah satu strategi untuk mempertahankan produksi adalah menyesuaikan pola tanam dengan kondisi lahan. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, misalnya, lahan rawa lebak mulai ditanami setelah genangan air surut.
Menurut Syamsir, sekitar 15.000 hektar lahan di wilayah tersebut baru ditanami. Lahan rawa lebak tidak dapat digunakan saat musim hujan karena tergenang, tetapi dapat menjadi lahan produktif ketika air mulai surut.
"Ini menjadi pengganti luas tanam dari daerah lain yang sementara tidak bisa melakukan penanaman," katanya.
Selain penanaman di Hulu Sungai Utara, panen masih berlangsung di Kabupaten Tabalong dan Hulu Sungai Tengah. Kondisi itu diharapkan dapat menjaga pasokan gabah dan beras hingga puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada September.
Antisipasi kekeringan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kekeringan yang dapat mengganggu lahan pertanian. Upaya tersebut antara lain pompanisasi, pemanfaatan sumber air yang memenuhi standar untuk pertanian, serta penggunaan sumur bor dan sumur pantek milik petani.
Syamsir mengatakan, antisipasi dilakukan bersama Brigade Pangan, Balai Penyuluhan Pertanian, dan penyuluh di lapangan. Pompa akan digunakan untuk mengairi sawah yang mengalami kekeringan.
Namun, tidak semua sumber air dapat digunakan. Air sungai yang bersifat asam, misalnya, tidak dapat langsung dipompa untuk mengairi tanaman karena berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman.
"Kalau ada sawah yang mengalami kekeringan, pompanisasi sudah kita siapkan. Namun, untuk sungai yang airnya bersifat asam tentu tidak bisa disedot karena bisa merusak tanaman. Alternatifnya menggunakan sumur bor maupun sumur pantek," ujarnya.
Untuk komoditas jagung, pemerintah juga menyiapkan opsi diversifikasi tanaman. Sebagian lahan yang dinilai kurang sesuai untuk jagung selama kemarau akan diarahkan untuk menanam sorgum yang dinilai lebih mampu beradaptasi dengan kondisi kering.
"Jagung memang cukup sulit ditanam saat kemarau. Karena itu, dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Kapolda Kalimantan Selatan, kita akan menggantinya dengan tanaman sorgum agar lahan tetap produktif," kata Syamsir.
Ancaman karhutla
Selain kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman lain terhadap sektor pertanian selama musim kemarau. Syamsir berharap penanganan karhutla, termasuk pemadaman melalui metode water bombing, terus dilakukan di wilayah yang rawan kebakaran.
Menurut dia, pengendalian karhutla diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan lahan pertanian sekaligus menjaga produksi pangan daerah.
"Kami berharap dukungan penanganan karhutla melalui water bombing tetap dilakukan sehingga dampaknya terhadap lahan pertanian dapat diminimalkan," ujarnya.
Dengan cadangan pangan yang masih surplus dan penyesuaian pola tanam, pemerintah daerah menilai pasokan pangan Kalsel masih dapat dipertahankan selama musim kemarau. Namun, keberlanjutan produksi tetap bergantung pada ketersediaan air dan pengendalian kebakaran lahan.
Editor : Muhammad Robby
