
Sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan mati terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.
SUARAMILENIAL.ID, HULU SUNGAI SELATAN – Sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan mati terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian satwa endemik Kalimantan tersebut setelah menerima laporan dari petugas pemadam kebakaran dan masyarakat pada Minggu (13/9/2026).
Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna mengatakan, berdasarkan informasi dari Kepala Desa Balimau, terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut.
Namun, jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi melalui pemantauan langsung di lapangan setelah kebakaran melanda habitat bekantan.
“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan,” ujar Agus, dikutip dari Antara, Senin (14/9/2026).
Selain 12 bekantan, kebakaran juga menyebabkan seekor ular piton dan seekor king kobra ikut mati terbakar.
Habitat bekantan terbakar
Agus menjelaskan, lokasi kebakaran berada di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau.
Tim penyelamatan BKSDA Kalsel telah mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi habitat, luas area yang terbakar, serta mencari kemungkinan adanya satwa yang masih bertahan dan membutuhkan penyelamatan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, habitat bekantan di kawasan tersebut terbagi menjadi dua area dengan luas masing-masing sekitar dua hingga tiga hektare.
Kedua kawasan itu dipisahkan oleh jalan. Salah satunya merupakan tanah desa, sedangkan kawasan lainnya merupakan lahan milik masyarakat.
Kebakaran terutama terjadi di lahan milik masyarakat. Sekitar 80 persen area tersebut dilaporkan terbakar.
Sementara itu, kawasan yang merupakan tanah desa relatif aman dari kebakaran.
Bangkai bekantan yang ditemukan seluruhnya berada di kawasan milik masyarakat.
Meski habitatnya terfragmentasi, kedua kawasan tersebut masih menjadi bagian dari wilayah jelajah bekantan.
“Habitatnya memang terfragmentasi, jadi tidak satu hamparan habitat atau satu ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah,” kata Agus.
Diduga tak sempat menyelamatkan diri
BKSDA menduga bekantan yang mati tidak sempat menyelamatkan diri karena kondisi habitat yang terbatas serta kobaran api yang cukup besar.
Angin kencang saat kebakaran juga diduga mempercepat penyebaran api sehingga menyulitkan satwa untuk menghindar.
BKSDA Kalsel telah menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan dengan cara menguburkannya.
Namun, apabila ditemukan indikasi bahwa kematian satwa disebabkan faktor lain, seperti penembakan, bangkai akan dibawa untuk menjalani pemeriksaan oleh dokter hewan.
Selain bekantan, kawasan tersebut juga diketahui menjadi habitat satwa lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal dan monyet ekor panjang.
Keberadaan satwa-satwa tersebut masih dipantau oleh tim BKSDA Kalsel.
BKSDA selanjutnya berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan pihak kecamatan untuk menangani dampak kebakaran.
Masyarakat juga diminta ikut menjaga habitat bekantan serta melaporkan jika menemukan satwa yang masih membutuhkan pertolongan atau evakuasi.
“Tim BKSDA masih mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di kawasan APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya serta memastikan kondisi habitat dan satwa liar yang terdampak kebakaran,” ujar Agus.
Sumber : CNN Indonesia