SUARAMILENIAL.ID, PANDEGLANG — Kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga awak hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, saat angin selatan disebut sedang kencang. Kondisi tersebut dinilai warga setempat berpotensi menyeret kapal ke arah Samudera Hindia.
“Sore waktu mereka hilang angin selatan lagi kencang-kencangnya,” ujar Arbi, warga Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, seperti dikutip Republika.co.id, Jumat (11/9/2026).
Menurut Arbi, arah angin menjadi hal yang biasa diperhatikan warga pesisir Carita, termasuk nelayan. Pada Senin (7/9/2026) sore, saat kapal rombongan hilang kontak, angin bertiup dari selatan dan ombak disebut mencapai sekitar tiga meter.
“Makanya nelayan yang sempat ketemu suruh menepi dulu,” kata Arbi.
Arbi mengatakan, seorang nelayan sempat melihat kapal yang membawa para jurnalis dalam perjalanan kembali menuju Banten setelah pukul 18.00 WIB. Namun, hingga kini kapal tersebut belum ditemukan.
Menurut dia, nelayan setempat biasanya menghindari pelayaran pada sore hari ketika angin selatan kencang. Jika mesin kapal mengalami masalah, perahu berpotensi terbawa arus dan angin ke laut lepas.
Sebaliknya, menurut Arbi, saat angin barat bertiup, kapal cenderung terdorong ke arah Banten sehingga kemungkinan terdampar di pulau-pulau sekitar Anak Krakatau lebih besar.
Upaya pencarian juga menghadapi kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Pada Kamis (10/9/2026), sejumlah nelayan mencoba mencari kapal di perairan Lampung. Pencarian tersebut terkendala angin kencang dan gelombang yang disebut mencapai enam meter.
Warga Carita lainnya, Sosa (50), mengatakan kejadian kapal hilang di sekitar perairan Anak Krakatau jarang terjadi. Menurut dia, nelayan biasanya hanya berlayar di sekitar tepian ketika kondisi angin sedang tidak bersahabat.
Sosa yang masih memiliki hubungan keluarga dengan kapten kapal, Warta, mengatakan keluarga masih menunggu kabar mengenai keberadaan rombongan.
Hilang Kontak 22 Menit Setelah Bagikan Lokasi
Berdasarkan laporan SAR Banten, speedboat yang membawa rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal tersebut membawa delapan orang, terdiri atas lima jurnalis, kapten kapal, seorang anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu.
Rombongan berangkat menuju perairan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas gunung tersebut.
Komunikasi dengan rombongan masih terpantau pada awal perjalanan. Sekitar pukul 14.42 WIB, mereka diketahui membagikan lokasi kepada rekan jurnalis di Lampung.
Sekitar 22 menit kemudian, komunikasi terputus. Pada pukul 15.04 WIB, tidak ada lagi komunikasi yang dapat dilakukan dengan rombongan.
Lokasi terakhir yang diketahui berada pada koordinat 6°14'40.52"S 105°40'49.48"T.
Setelah menerima laporan kehilangan kontak, tim SAR gabungan melakukan pencarian di perairan Selat Sunda. Pencarian diperkuat dengan pengerahan kapal dari unsur TNI Angkatan Laut, Basarnas, dan kepolisian melalui Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara.
Hingga Jumat (11/9/2026), pencarian masih dilakukan untuk menemukan delapan orang yang berada di dalam speedboat tersebut.
Editor : Muhammad Robby
